Loading...

Langkah Panjang Menuju Food Security: Urgensi akselerasi digitalisasi industri pertanian Indonesia

Pemerintah Indonesia berinisiatif membangun food estate di berbagai daerah dalam rangka menjamin food security di masa mendatang. Padahal selain berkurangnya lahan pertanian akibat pembangunan perumahan dan industri, tantangan pertanian Indonesia adalah teknologi pertanian yang belum dimaksimalkan. Menurut data Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) pada tahun 2018, hanya 7,28% petani yang telah melakukan mekanisasi pertanian dan hanya 3,26% yang menggunakan teknologi selain mekanisasi. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas sekilas pentingnya penggunaan teknologi digital di sektor pertanian untuk meningkatkan produksi.

Apa itu Digitalisasi Pertanian?

Secara umum, digitalisasi pertanian merupakan pemanfaatan teknologi digital yang terhubung dengan mesin-mesin pertanian yang membantu petani meningkatkan produktivitas dan menangani masalah pertanian secara cepat. Integrasi teknologi digital dalam pertanian biasa disebut smart farming. Negara-negara maju banyak menggunakan smart farming sehingga walaupun lahan dan tenaga kerja terbatas, mereka mampu mengelola lahan pertanian yang produktif, bahkan melebih Indonesia yang memiliki lahan sangat luas. Contohnya adalah Belanda, Jerman, Jepang, Prancis dan Prancis, mereka menggunakan berbagai teknologi seperti sensor, drone, vertikultur, dan greenhouse.  

Sebagai gambaran, smart farming yang dapat dikembangkan di Indonesia terkait budidaya pertanian dan terintegrasi dengan peternakan. Sehingga membantu mengelola sawah yang skala besar dan memastikan jumlah pestisida dan pupuk yang diberikan tercukupi walaupun jumlah petani yang mengelola sawah semakin sedikit. Contohnya, penggunaan sensor untuk mengecek kesehatan ternak dan lokasi ternak terutama di kawasan yang luas, penggunaan drone untuk memberikan informasi terkini di sawah/kebun baik dalam hal cuaca maupun kondisi tanaman. Ada pula tractor yang dapat digunakan secara otomatis dengan GPS. Selanjutnya penggunaan mesin otomatis untuk pengairan, pestisida, dan pupuk. Serta penggunaan greenhouse yang mampu mengubah suhu dan temperatur sesuai kebutuhan tanaman secara otomatis.

Potensi Startup dan Tantangan

Di Indonesia sendiri sudah mulai muncul startup yang berfokus pada pertanian. Akan tetapi, startup yang muncul dan berkembang secara masif didominasi oleh startup e-commerce atau yang menjadi wadah penjualan hasil pertanian. Kehadiran startup ini tentu sangat bagus untuk mengurangi panjangnya rantai pasok, misalnya starup TaniHub, SayurBox, KedaiSayur, iGrow, Eragano, dan lainnya.

Di sisi lain, sangat dibutuhkan inovasi teknologi digital yang mendukung budidaya agar dapat meningkatkan produksi dan mendukung food security. Terdapat beberapa startup di sektor ini, seperti Efishery di bidang perikanan, Habibi Garden yang menggunakan IoT agribisnis, dan 8Villages yang memberikan edukasi masalah pertanian yang diberikan oleh pakar pertanian.

Tantangan utama proses digitalisasi pertanian ini dapat dilihat dari masih sedikitnya petani yang terpapar informasi penggunaan teknologi digital. Startup yang memperkenalkan penggunaan IoT dan teknologi digital lainnya masih sangat sedikit dan masih sulit diakses baik secara informasi, harga, dan pemanfaatannya.

Penyebabnya yaitu belum ratanya infrastruktur internet di seluruh wilayah Indonesia terutama pedesaan. Apabila ingin mengembangkan smart farming, maka syarat pertama yaitu pemerataan infrastruktur internet dan listrik. Kedua, tantangan literasi digital yang masih rendah. Banyaknya anak muda di pedesaan seharusnya menjadi potensi pengembangan smart farming karena mereka lebih melek teknologi dan lebih mudah untuk belajar inovasi teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan Newsletter Kami !

Dapatkan Artikel Penting dan Wawasan:.

Loading