Loading...

Mencari Celah Peluang Substitusi Impor Petrokimia Indonesia

Presiden Jokowi menargetkan impor petrokimia dapat disetop pada 2024 seiring dengan upaya menarik investasi ke dalam sektor tersebut. Salah satu perusahaan yang sudah berinvestasi melalui pendirian pabrik baru adalah PT Chandra Asri. Perusahaan tersebut telah membuka pabrik baru senilai USD 380 juta yang akan digunakan untuk memproduksi Polipropilena berkapasitas 400.000 ton per tahun.

PT Lotte Chemical juga telah menginvestasikan pabrik petrokimia dengan kapasitas produksi 1 juta ton. Upaya peningkatan kapasitas produksi juga diharapkan dating melalui PT Tuban Petro yang sudah diakuisisi oleh Pertamina. Menurut Sigit, Sekretaris Jenderal Kemenperin, jika PT Tuban Petro bisa diarahkan untuk memproduksi Benzena, Toluena, dan Xylena (BTX) maka akan terjadi peningkatan produksi sekitar 1,5 juta ton sehingga dapat secara signifikan mendorong penurunan sebesar 50 % pada 2023.

Indonesia setidaknya telah memiliki lebih dari 9 perusahaan petrokimia domestik yang beroperasi, dan setidaknya 5 atau lebih perusahaan petrokimia asing yang beroperasi di Indonesia. DOW Chemical dari Amerika, BASF dari Jerman, Indorama Ventures dari Thailand, dan Lotte Chemical Titan dari Korea Selatan. PT Chandra Asri Petrokima sebagai perusahaan milik swasta asal Indonesia menjadi pemain paling besar dalam usaha ini. Sebagai market leader, ia mampu meraup rata-rata pendapatan hingga 40% dari total pasar petrokimia Indonesia.

Sumber: nexant, 2018 dalam Presentasi PT CAP, 2019

Melihat supply share dari PT CAP, selain produksi fertilizer, perusahaan ini telah memiliki supply share yang besar di Indonesia. Ia bahkan mampu mensuplai 100% kebutuhan Styrene Monomer Indonesia. PT Chandra Asri Petrokimia juga masuk dalam 10 besar produsen Olefin di Asia Tenggara, tepat di bawah Lotte Chemical Titan. Dengan tambahan kapasitas produksi Ethylene dan Propylene, maka produk yang dihasilkan dapat meningkat lagi menyamai produsen Olefin lain di level Asia Tenggara. Dari sisi produksi Polyolefins, PT Chandra Asri juga mampu menjadi peringkat ke-7 dalam hal produksi se-Asia Tenggara. Tambahan kapasitas produksi Polyolefins memungkinkan PT CAP memasuki peringkat yang lebih tinggi lagi.

Kapasitas produksi petrokimia secara keseluruhan dari Indonesia juga diprediksi akan meningkat hingga 30 mtpa (million tonnes per annum) pada 2030. Tidak hanya di level Asia Tenggara, kapasitas produksinya bahkan bisa memasuki 6 besar dunia. China diprediksi masih menjadi negara utama yang menghasilkan produk petrokimia paling besar, diikuti India, Iran, Amerika Serikat, dan Rusia.

Selain PT CAP, tentu saja masih ada banyak perusahaan Indonesia yang berpotensi untuk didorong meningkatkan produksinya. Sebagian besar perusahaan tersebut memang baru bisa memproduksi 1 atau 2 jenis produk saja, sehingga spesifikasi produk seharusnya dapat lebih ditingkatkan. Perusahaan lainnya juga telah memproduksi berbagai produk petrokimia seperti Butadiene oleh PT Petrokimia Butadiene Indonesia; Benzene, Tooluena, P-Xylene, dan O-Xylene oleh PT Trans-Pasific Petrochemical Indonetama; Methanol oleh PT Kaltim Methanol Industri; dsb.

Sumber: EIBN Sector Reports-Chemical Industry, 2016

Melihat potensi yang ada, tidak menutup kemungkinan Indonesia mampu secara perlahan melakukan substitusi impor petrokimia. Kuncinya adalah konsisten untuk dapat semaksimal mungkin menarik investasi ke dalam sektor ini dan meningkatkan kapabilitas teknologi dari perusahaan petrokimia di dalam negeri. Sumber daya manusia juga perlu disiapkan untuk mendukung keberlanjutan usaha dengan memberdayakan talenta lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan Newsletter Kami !

Dapatkan Artikel Penting dan Wawasan:.

Loading