Loading...

Rendahnya Mekanisasi & Jauhnya Digitalisasi Pertanian Indonesia

Baru-baru ini pemerintah Indonesia berinisiatif membangun food estate di Kalimantan untuk memenuhi kebutuhan pangan Indonesia. Upaya tersebut terkait krisis pangan yang diprediksi akan melanda dunia, terutama Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sangat banyak. Akan tetapi, muncul pertanyaan bagaimana dengan pertanian yang sedang berjalan saat ini, mengapa tidak mengupayakan maksimalisasi produksi lahan pertanian yang sudah ada dan melakukan upskilling teknologi.

Sebuah roadmap membangun Indonesia melalui revolusi industri 4.0 telah dikembangkan, yaitu Making Indonesia 4.0. Roadmap ini apabila dikembangkan untuk mendukung digitalisasi sektor peternakan di Indonesia sangat memungkinkan karena banyak sektor prioritas di roadmap ini terkait sektor pangan. Misalnya sektor makanan dan minuman. Salah satu langkah yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian adalah program e-smart IKM yang berfungsi sebagai e-commerce industri kecil dan menengah.

Akan tetapi, untuk mencapai food security, dimana produksi pangan mampu memenuhi kebutuhan dan juga terjangkau harganya, membutuhkan inovasi yang lebih dari pada penyediaan pasar. Dibutuhkan inovasi digital di sektor produksi sehingga meningkatkan produktivitas dan kualitas tetapi harganya tetap lebih terjangkau.

Kementerian Pertanian diketahui sudah mulai melirik penggunaan teknologi digital di pertanian. Seperti munculnya alat mesin pertanian dengan robot. Lompatan teknologi ini tentu memiliki tantangan karena perlunya adaptasi dari penggunaan teknologi konvensional menuju robot. Hal ini terkait maksimalisasi penggunaan robot oleh petani.

Sumber: diolah dari Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018

Berdasarkan data dari BPS pada tahun 2018, terlihat bahwa penggunaan teknologi di sektor pertanian Indonesia masih sangat rendah. Bahkan mayoritas rumah tangga petani tidak menggunakan mesin atau masih konvensional, yaitu sekitar 87,59%. Hanya 7,28 rumah tangga yang sudah melakukan mekanisasi dan 3,26% saja yang menggunakan teknologi selain mekanisasi. Angka ini sangat memprihatinkan karena menjelaskan mengapa produktivitas pertanian Indonesia sangat rendah.

Mimpi pemerintah untuk mewujudkan digitalisasi pertanian masih jauh dari harapan. Hal ini karena lompatan dari pertanian konvensional menuju digital terlalu jauh dan membutuhkan intervensi struktural dan rekayasa sosial. Kebijakan pemerintah terkait pembuatan e-commerce petani dan juga penggunaan robot pertanian perlu disosialisasikan secara masif dan dukungan berbagai pihak. Perlu ada pendekatan yang humanis dan mudah dipahami oleh petani dalam hal perubahan mekanisme kerja pertanian, sehingga petani yang selama ini bekerja tidak terpinggirkan, namun bisa berpartisipasi dalam pengembangan inovasi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan Newsletter Kami !

Dapatkan Artikel Penting dan Wawasan:.