Loading...

Lesson Learned Catching-up untuk Indonesia

Making Indonesia 4.0 yang merupakan Inisiasi yang diterapkan dalam mendukung terwujudnya ekosistem industri 4.0 di Indonesia dan memiliki sejumlah perbedaan karakteristik dengan MIC 2025 Tiongkok. Jika ditelaah secara mendalam, kebijakan Making Indonesia 4.0 belum mampu memberikan arahan yang jelas bagaimana Indonesia akan mulai mengaplikasikan teknologi canggih untuk masuk ke dalam industri manufaktur. Dalam MIC 2025, secara sederhana dijelaskan bahwa untuk mendapatkan akses teknologi canggih seperti teknologi robot, kecerdasan buatan dan berbagai teknologi lainnya, maka Tiongkok akan melakukan merger dan akuisisi teknologi, baik melalui BUMN maupun melalui sektor privat yang didukung penuh oleh pemerintah. Jika mengikuti model catching-up ala Tiongkok, maka berikut terdapat beberapa poin yang dapat ditiru oleh Indonesia

  1. Penyediaan dana untuk mendukung industri 4.0

Indonesia perlu menyediakan dana dan pembiayaan secara bersama dalam mendukung sektor swasta maupun BUMN dalam mengimplementasikan industri 4.0. Pembiayaan tersebut dapat berasal dari Bank BUMN maupun dana bersama dari seluruh pemangku kepentingan di industri manufaktur. Dengan adanya dana tersebut, maka Indonesia dapat menggunakannya untuk mengakuisisi teknologi ataupun melakukan transfer teknologi dari asing ke domestik

  • Mendirikan BUMN “Indonesia 4.0” dengan fokus teknologi canggih

Indonesia dapat mulai mendirikan BUMN baru yang bertujuan untuk memberikan penyediaan berbagai teknologi canggih seperti robotika, AR/VR, kecerdasan buatan dan sebagainya. BUMN ini nantinya dapat menjadi penyedia utama dari teknologi-teknologi canggih tersebut. Sebagai contoh, ketika ada perusahaan di industri makanan dan minuman yang ingin melakukan upgrade proses produksi dengan menggunakan robotika canggih, maka perusahaan tersebut cukup membeli dari BUMN Indonesia. Tidak hanya itu, BUMN ini nantinya akan mendapat subsidi dari pemerintah sehingga mampu menawarkan teknologi 4.0 dengan harga yang kompetitif ke pemain industri lokal.

Pendirian BUMN ini harus disertai dengan peningkatan kapasitas serap, sehingga BUMN mampu menerima transfer teknologi dari penanaman modal asing. Tidak hanya itu, BUMN Indonesia 4.0 diharapkan mampu menarik talenta global untuk bekerja di Indonesia. Hal tersebut merupakan shortcut sehingga Indonesia tidak perlu membangun kapabilitas sumber daya manusia dari awal.

  • Melakukan akuisisi teknologi

Ketika pemerintah telah memiliki modal untuk melakukan akuisisi, maka Pemerintah dapat mendirikan holding ventura dengan tujuan untuk mengakuisisi berbagai startup ataupun usaha di luar negeri yang memiliki teknologi canggih dan sesuai dengan prioritas dari Making Indonesia 4.0. Akuisisi teknologi tersebut dapat berupa merger antara perusahaan Indonesia dengan asing atau hanya membeli teknologi dari perusahaan yang memiliki fokus dengan industri 4.0. Nantinya teknologi dari startup tersebut akan ditransfer ke BUMN Indonesia 4.0

  • Transfer teknologi dari PMA

Indonesia memiliki potensi pasar yang luar biasa yang dapat menjadi daya tarik bagi investor. Studi dari Boston Consulting Group menunjukan akan ada 140 juta middle class afluent customer dan Indonesia akan memasuki masa bonus demografi. Besarnya pasar ini dapat menjadi “permen” bagi investor, khususnya investor yang memiliki teknologi tinggi. Indonesia harus mulai memilah investor yang menjadi target, sebagai contoh investor yang memiliki teknologi tinggi. Sama seperti Tiongkok, sebagai ganti atas akses pasar yang besar, maka perusahaan tersebut diharapkan akan melakukan transfer teknologi ke BUMN Indonesia.

Sumber: Penulis, 2019

*Artikel ini merupakan bagian dari Mini Ebook Forbil Series dengan judul “Model Kebijakan Catching-Up dalam Ekosistem Industri 4.0”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan Newsletter Kami !

Dapatkan Artikel Penting dan Wawasan:.