Loading...

Indonesia dalam Global Supply Chains

Dengan pendapatan per kapita senilai USD 3.927, Indonesia masih masuk ke dalam kategori lower-middle income country. Indonesia juga memiliki pangsa pasar domestik yang sangat menjanjikan dengan jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menurut OECD dapat menciptakan forward participation yang lebih besar ketimbang backward participation.

China, partner utama perdagangan Indonesia

Trade (USD x 1.000) Partner Share
Market 
China 27.126.932 15,05%
Jepang 19.479.892 10,81%
Amerika Serikat 18.471.771 10,25%
India 13.725.676 7,62%
Singapura 12.991.593 7,21%
Eksportir
China 45.537.815 24,13%
Singapura 21.439.514 11,36%
Jepang 17.976.711 9,53%
Thailand 10.952.798 5,80%
Amerika Serikat 10.212.388 5,41%

Sumber: International Trade Statictics, 2018

China menjadi negara tujuan ekspor Indonesia, yang mana pada 2018 ekspor Indonesia ke China mencapai 15,05% dari total ekspor Indonesia ke dunia. China juga menjadi eksporter terbesar bagi Indonesia yang mampu memenuhi 24,13 % kebutuhan impor Indonesia. Produk turunan kelapa sawit dan barang setengah jadi lainnya menjadi produk ekspor unggulan Indonesia yang dibutuhkan oleh indutsri global. Produk-produk ini diantaranya adalah Pulverised coal or not, palm oil and its fractions, dan natural gas. Sedangkan kebutuhan akan produk turunan dari industri petrokimia harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan industri domestik. Produk-produk yang harus diimpor Indonesia, diantaranya light oil and preparations, petroleum oils and oils obtained from bituminous minerals, dan part of telephone sets.

Ekspor Indonesia didominasi sektor primer

Sumber: Trade in Value Added Database-OECD, 2018

Indonesia lebih banyak berpartisipasi melalui forward linkage (aktivitas hilir) yang dilakukan di dalam global value chain yang berarti bahwa banyak negara partner yang menggunakan sumber input yang diekspor oleh Indonesia. Tingginya partisipasi Indonesia dalam forward linkage (24,1%) dikarenakan dominasi sektor primer dalam ekspor Indonesia. Hal ini didukung oleh data World Integrated Trade Solition, dimana pada 2011 intensitas ekspor Indonesia didominasi oleh sektor primer, diikuti sektor jasa, dan kemudian manufaktur.

Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura memiliki partisipasi yang tinggi di dalam GVCs. Berbeda dengan Indonesia yang unggul pada forward participation, negara-negara asia tenggara ini lebih unggul dalam backward participation. Hal ini dimungkinkan karena masuknya industri manufaktur asing yang memilih berinvestasi ke negara tersebut, serta banyaknya proses manufaktur yang terjadi, seperti industri perakitan otomotif yang berkembang di Thailand.

Menurunnya proporsi nilai tambah asing pada produk ekspor Indonesia

Analisis OECD pada 152 negara menyimpulkan bahwa, penggunaan faktor produksi dari asing sebagai komplemen (pelengkap) faktor produksi dalam negeri mampu memberikan dampak positif pada peningkatan nilai tambah domestik untuk produk ekspornya.

Sumber: Trade in Value Added Database-OECD, 2018

Kontribusi nilai tambah asing paling besar ada pada ekspor di sektor industri peralatan transportasi selain motor vehicles (38%), diikuti industri mesin dan peralatan (33,3%), kemudian industri ICT dan elektronik (31,6). Ketiga industri tersebut masuk ke dalam kategori industri high-tech dengan kompleksitas produk tinggi yang mana Indonesia belum mampu memproduksi sebagian besar inputnya. Adapun ketiganya mengalami tren penurunan pada kontribusi nilai tambah asing dari tahun 2005 yang menunjukan terjadinya peningkatan keterlibatan nilai tambah domestik ke dalam aktivitas ekspor industri peralatan transportasi, industri permesinan, dan industri ICT dan elektronik.

Gambar di atas juga menunjukkan bahwa persentase nilai tambah domestik paling banyak didominasi oleh sektor jasa dan sektor primer. Penyedia jasa keuangan dan asuransi memiliki persentase nilai tambah domestik paling tinggi (95%). Di sektor primer, pertanian (94,5%) dan pertambangan (92,4%) menjadi sektor yang paling banyak memiliki domestic value-added ketimbang foreign value-added. Angka tersebut diperoleh melalui pengurangan 100% total nilai tambah dengan nilai tambah asing pada gambar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berlangganan Newsletter Kami !

Dapatkan Artikel Penting dan Wawasan:.

Loading